Jumat, 23 Maret 2012

PEMBUATAN LARUTAN DAN STANDARISASINYA


Latar Belakang

Larutan merupakan fase yang setiap hari ada disekitar kita. Suatu sistem homogen yang mengandung dua atau lebih zat yang masing-masing komponennya tidak bisa dibedakan secara fisik disebut larutan. Sedangkan suatu sistem yang heterogen disebut campuran. Biasanya istilah larutan dianggap sebagai cairan yang mengandung zat terlarut, misalnya padatan atau gas. Dengan kata lain larutan tidak hanya terbatas pada cairan saja.
Konsentrasi merupakan cara untuk menyatakan hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut. Terkadang ketika kita membuat larutan, kita tidak dapat membuat larutan dengan konsentrasi sesuai keinginan kita. Untuk itu perlu adanya standarisasi dengan larutan standar. Caranya adalah jika ingin menentukan konsentrasi larutan asam, maka memerlukan larutan basa yang sudah diketahui konsentrasinya. Begitu juga sebaliknya.
Air merupakan komponen utama dalam bumi yang memiliki keunikannya sendiri. Setiap insan di bumi pasti membutuhkan air. Tanpa air, makhluk hidup tidak dapat menunjang kegiatan hidupnya. Salah satu manfaatnya adalah sebagai pelarut. Namun, air sangat rentan untuk tercemar. Mengapa? Karena air sangat mudah melarutkan berbagai zat, seperti zat-zat pencemar. Dengan adanya zat pencemar yang terlarut dalam air, maka air tersebut tidak dapat dikonsumsi karena derajat keasaman (pH) air akan berubah. Padahal pH air yang layak untuk dikonsumsi sekitar 6,5 – 9,2. Sehingga tak heran, jika di daerah perkotaan dan industri, kebutuhan air bersih dan sehat sangat sukar diperoleh. Sebab di daerah seperti itu, air sudah tercemar oleh limbah, sampah, dan kotoran rumah tangga.
Masalah di atas menjadi salah satu alasan betapa pentingnya kita mempelajari kimia. Di dalam kimia, kita dapat mempelajari larutan dan standarisasinya. Melalui bab tersebut, kita bisa membuka pengetahuan tentang bagaimana bisa suatu larutan yang tercampur zat lain dapat berubah pHnya. Selain itu, dalam bidang pertanian, larutan dan standarisasinya dapat berguna. Untuk mengetahui apakah air dalam sungai, danau, sudah tercemar atau belum, dapat digunakan standarisasi dengan larutan standar.  Sehingga, diharapkan, kita dapat memakai pengetahuan ini untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik.


Tinjauan Pustaka

Unsur terpenting yang menentukan keadaan bahan dalam larutan adalah pelarut. Komponen yang jumlahnya lebih sedikit dinakan zat terlarut (solute). Larutan yang menggunakan air sebagai pelarut dinamakan lerutan dala air atau aqueous. Larutan yang ,engandung zat terlarut dalam jumlah banyak dinamakan larutan pekat. Jika jumlah zat terlarut sedikit, larutan dinamakan larutan encer (Day,1996).
Dalam pembahasan mengenai prinsip Le Chatelier diketahui bahwa penambahan kalor kedalam sistem pada kesetimbangan (dengan meningkatkan suhu) merangsang proses penyerapan kalor atau proses endoterm. Jika zat terlarut mempunyai entalpi (kalor) pelarut endoterm, kelarutannya meningkat menurrut suhu. Sebaiknya, apabila zat terlarut mempunyai entalpi (kalor) pelaurt endoterm, ia akan menujukkan penurunan kelarutan jika suhunya meningkat (atau, proses pengendapannya adalah endoterm) (Ralph,1992).
Bila laju reaksi maju dan reaksi balik sama besar dan konsentrasi reaktan dan produk tidak lagi berubah seiring berjalannya waktu, maka tercapailah kesetimbangan kimia (chemical equilibrium). Kesetimbangan kimia merupakan proses dinamik. Ini dapat diibaratkan dengan gerakkan para pemain ski di suatu resor yang ramai, di mana jumlah pemain ski yang dibawa ke atas gunung dengan menggunakan lift kursi sama dengan jumlah pemain ski yang turun berseluncur (Raymon,2005).
Ada dua cara untuk memyatakan konsentrasi larutan yaitu jumlah berat zat yang terkandung dalam sejumlah berat tertentu zat pelarutnya. Jumlah berat zat yang terkandung dalam volum tertentu larutannya (Saroyo,1983).
Cara yang tepat untuk menentukan sifat asam dan sifat basa adalah dengan menggunakan zat penunjuk yang disebut indikator. Indicator asam basa adalah zat yang dapat berbeda warna jika berada dalam lingkungan asam atau llingkunga basa (Anonim1,2010).
Buret merupakan alat yang digunakan untuk menunjang adanya titrasi asam basa. Tabung kaca bertanda ukuran dengan sebuah cerat pada ujungnya untuk mengeluarkan cairan dengan volume tertentu ( misalnya dalam titrasi ). Alat ini terdiri dari Statif, klem, Klep (Anonim2,2010).
Komponen dari larutan terdiri dari dua jenis, pelarut dan zat terlarut, yang dapat dipertukarkan tergantung jumlahnya. Pelarut merupakan komponen yang utama yang terdapat dalam jumlah yang banyak, sedangkan komponen minornya merupakan zat terlarut. Larutan terbentuk melalui pencampuran dua atau lebih zat murni yang molekulnya berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur (Dina,2010).
Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut dan pelarut di dalam larutan. Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah total zat dalam larutan, atau dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa satuan konsentrasi adalah molar, molal, dan bagian per juta (part per million, ppm) (Anonim3,2010).
Kondisi pH larutan pada suatu ekstraksi pelarut merupakan salah satu faktor yang penting. Hal ini disebabkan karena karakteristik spesies ligan sangat dipengaruhi oleh kondisi pH larutan (Hastuti,2001).
Untuk penambahan larutan secara berdikit – dikit digunakan buret, yaitu suatu tabung gelas yang diberi tanda tera untuk volume dan cerat untuk mengatur cairan yang dikeluarkan agar dapat mengalir cepat atau menetes lambat sesuai dengan kebutuhan. Dengan mencatat letak meniskus larutan dalam buret sebelum dititrasi dan setelah pelaksanaannya dapat diketahui volume yang terpakai. Agar teliti, maka diameter tabung harus benar – benar merata sepanjang buret. Di samping itu, bagian dalam buret harus bersih dari kotoran bersifat lemak atau minyak sehingga cairan dapat membasahi dinding dalam secara merata. Bila tidak, maka ada cairan yang tertinggal sebagai tetes yang menempel setelah meniskus turun. Volume tetes – tetes tersebut tak mungkin diketahui sehingga volume yang terpakai sebenarnya juga tak mungkin diketahui dengan pasti (Haziran,2010).
Larutan standar glukosa dan fruktosa dibuat dengan konsentrasi. Adapun konsentrasi masing-masing 5 % b/v. Cara pembuatannya yang pertama kali adalah menimbang 1 kg masing-masing senyawa. Lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 20 ml. kemudian ditambah aquades sampai tanda batas (Ratnayani,2008).

Daftar Pustaka

Anonim1. 2010. Buret. http://id.wikipedia.org/wiki/Peralatan_laboratorium. Diakses pada hari Rabu tanggal 6 Oktober 2010 pada pukul 18.30 WIB.
Anonim2. 2010. Larutan. http://id.wikipedia.org/wiki/Larutan. Diakses pada Rabu. 6. Oktober. 2010. Pada pukul 18.33 WIB.
Anonim3. 2010. Pengertian Larutan Kimia. http:// info. gexcess. com/images / favicon.ico. Diakses pada hari Rabu tanggal 6 Oktober 2010 pada pukul 18.35 WIB.
Chan, Dina. 2010. Larutan.  http:// kimia. upi. Edu /utama /bahanajar /kuliah_web /2009 /0700009 /index.html. Diakses pada hari Rabu tanggal 6 Oktober 2010 pada pukul 19.06 WIB.
Day dan Underwood. 1996. Kimia Dasar. Edisi keenam. Erlangga. Jakarta.
Hastuti. 2001. Alchemy Jurnal Penelitian Kimia. Volume 6. No 2. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Haziran. 2010. Definisi Buret. http://www.artikata.com/arti-325028-buret.php. Diakses pada hari Rabu tanggal 6 Oktober 2010 pada pukul 18.47 WIB.
Ralph. 1992. Kimia Analitik. Erlangga. Jakarta.
Ratnayani, dkk. 2008. Jurnal Kimia. Volume 2. No 2. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana. Bukit Jimbaran.
Raymon. 2005. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi keenam. Erlangga. Jakarta.
Saroyo. 1982. Kimia Umum. Erlangga. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar